Tempe Kedelai Lokal Ternyata Lebih Wangi, Kenapa Masih Pakai Impor?

Jakarta, CNBC Indonesia РKetua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin membeberkan alasan kenapa produksi tempe tahu lebih banyak dibuat menggunakan kedelai impor. Alasannya, karena produksi kedelai lokal yang sedikit atau hanya 10% dari angka kebutuhan nasional.

Padahal, katanya, berdasarkan analisa laboratorium di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Sucofindo, nilai gizi dan kandungan yang ada di kedelai lokal jauh lebih bagus daripada kedelai impor.

“Jadi kalau dibikin tahu misalnya, kedelai lokal ini lebih harum, lebih legit, lebih enak, dan wangi. Cuma, kedelai lokal ini teu aya (nggak ada),” kata Aip kepada CNBC Indonesia, Senin (15/1/2024).

Dalam satu tahun, lanjutnya, produksi kedelai lokal di Indonesia maksimum hanya menghasilkan sekitar 300 ribu ton kedelai. Sedangkan, kebutuhannya sekitar 3 juta ton per tahun.

Namun bila untuk pembuatan tempe, menurut Aip, hasilnya akan lebih bagus jika menggunakan kedelai impor, karena kedelai impor memiliki standardisasi ukuran dan warna yang seragam.

“Tapi kalau untuk bikin tempe, memang kedelai impor lebih bagus, karena kedelai impor itu ada standardisasi mengenai besaran biji-bijinya itu, warnanya sama, dan lain sebagainya. Di samping itu, kalau kedelai impor, 1 kg kedelai impor itu bisa jadi 1,7 kg atau 1,8 kg tempe. Kalu kedelai lokal, 1 kg kedelai lokal, hanya menjadi 1,3 kg atau 1,4 kg,” terang dia.

“Sehingga kalau bagi kami perajin. Kalau untuk tahu itu contohnya di Sumedang. Tahu Sumedang itu dia tidak mau pakai kedelai impor, makanya tahu Sumedang itu terkenal enak, harum, dan sebagainya. Tapi kalau tahu-tahu yang ada di sini, di Jawa atau di mana, itu pada umumnya dibuat dengan kedelai impor,” kata Aip. https://ditanggung.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*