Dunia Ingin Segera Tinggalkan Batu Bara, Faktanya Sulit

Jakarta, CNBC Indonesia Konsumsi batu bara di pembangkit listrik di seluruh dunia diperkirakan akan mencapai puncaknya sebelum mengalami penurunan yang berkelanjutan. Lantas, bagaimana prospek batu bara ke depan? Apa saja tantangan dalam pengurangan penggunaan batu bara?

Selama lebih dari satu abad, batu bara telah digunakan untuk menghasilkan listrik dan hingga saat ini tetap masih menjadi tulang punggung sektor listrik global dan bagian kritis dari ekonomi dunia.

Batu bara merupakan bahan bakar fosil yang paling kotor dan paling mencemari, tetapi sulit bagi dunia untuk meninggalkan sumber energi yang tangguh ini. Melansir CBC News Canada, perusahaan riset energi Wood Mackenzie memperkirakan tahun 2024 sebagai titik balik terakhir konsumsi batu bara dunia sebelum mengalami penurunan.

Ramalan ini sebagian besar didasarkan pada potensi pemulihan ekonomi China dalam 12 bulan mendatang, yang dapat meningkatkan penggunaan batu bara di pembangkit listrik negara tersebut.

“Batu bara masih memiliki daya tahan yang tinggi,” kata Natalie Biggs, kepala pasar batu bara termal di Wood Mackenzie. Meskipun pernah salah meramalkan puncak permintaan batu bara sebelumnya pada 2013, Wood Mackenzie bersikeras bahwa pemakaian batu bara akan mencapai puncak pada 2024.

Kesulitan untuk beralih berasal dari kenyataan bahwa batu bara masih menjadi sumber listrik termurah dan paling dapat diandalkan di negara-negara Asia. Fasilitas penyimpanan energi surya skala besar dan baterai baru akan menjadi opsi termurah lebih dari satu dekade ke depan.

Kehadiran “Raja Batu Bara” di COP28

Pada Konferensi Iklim COP28 di Dubai bulan lalu, hampir 200 negara sepakat untuk mulai “beralih” dari semua bahan bakar fosil untuk melawan perubahan iklim. Kesepakatan ini dijelaskan sebagai terobosan dalam sejarah umat manusia mengingat dunia saat ini masih mengkonsumsi minyak, gas alam, dan batu bara pada tingkat rekor, yang menyoroti tantangan nyata dalam bergerak jauh dari bahan bakar fosil.

“Kita seharusnya beralih dari batu bara. Tidak boleh lagi ada pembangkit listrik batu bara yang diizinkan di seluruh dunia,” ujar John Kerry, Utusan Khusus Presiden AS untuk Iklim, di panggung COP28. “Kenyataannya adalah kita belum melakukannya,” tambahnya.

Secara keseluruhan, permintaan batu bara global tetap kuat dan mencapai rekor tertinggi pada2022. Tiga tahun lalu, fokus utama Konferensi Iklim COP26 di Glasgow adalah untuk “menghapus batu bara dari sejarah,” dan kesepakatan akhir pada  2021 mencakup komitmen untuk “mempercepat upaya menuju pengurangan tahap pembangkit listrik batu bara yang tidak diperlakukan.”

Namun, hanya setahun kemudian, konsumsi batu bara mencapai rekor tertinggi. Setelah invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada 2022, harga batu bara termal melonjak begitu tinggi, bahkan melampaui nilai batu bara metalurgi yang digunakan dalam pembuatan baja. Batu bara metalurgi lebih langka dan memiliki kualitas kalori lebih tinggi, sehingga biasanya lebih berharga.

Konsumsi Batu Bara Asia: China & India

Kesepakatan terbaru COP bulan lalu meminta “beralih dari bahan bakar fosil dalam sistem energi.” Di Amerika Utara dan sebagian besar Eropa, konsumsi batu bara dalam sektor listrik telah mengalami penurunan.

Namun, penurunan ini telah terimbangi oleh pembangunan pembangkit listrik baru di bagian lain dunia, terutama di China, yang mengonsumsi sebagian besar batu bara di seluruh dunia.

Konsumsi batu bara di China diperkirakan akan terus tumbuh hingga sekitar  2030, sementara di India mungkin akan meningkat hingga sekitar tahun 2040.

Di India, batu bara tetap menjadi bahan bakar pilihan karena permintaan listrik melonjak, dan ada masalah ketenagakerjaan yang perlu diatasi dalam beralih ke sumber listrik lainnya.

Melansir data International Energy Agency (IEA), konsumsi batu bara China dan India mengonsumsi batu bara mencapai 66,7% atau mencapai 5,3 miliar ton secara global pada 2022. Data juga menunjukkan secara keseluruhan konsumsi batu bara global masih akan stabil di sekitar 8 miliar ton. 

“Batu bara adalah penyedia energi yang besar sekaligus penyedia lapangan kerja, dan kami yakin itu akan mendukung pertumbuhan permintaan batu bara di India untuk waktu yang dapat dilihat ke depan,” kata Paul McConnell, direktur eksekutif dengan tim Skenario Energi dan Iklim dikutip dari S&P Global Commodity Insights.

Masa Depan & Tantangan Pengurangan Konsumsi Batu Bara

Tantangan dalam pengurangan penggunaan batu bara tidak hanya dari segi pengurangan lapangan pekerjaan dan biaya energi alternatif yang tinggi. Beberapa negara menginvestasikan fasilitas penangkapan karbon (carbon capture), yang dirancang untuk mengumpulkan emisi gas rumah kaca dari cerobong asap dan menyimpan gas-gas tersebut di bawah tanah.

Teknologi ini diharapkan dapat membantu mengurangi polusi pembangkit listrik batu bara, tetapi juga dapat memperpanjang penggunaan batu bara. Dengan penangkapan emisi dari pembangkit listrik batu bara, artinya komoditas kotor dan tidak terbarukan ini masih akan digunakan ke depan.

Ditambah lagi kemunculan kendaraan listrik, baja hijau, dan elektrifikasi industri, akan memacu lebih banyak permintaan energi. “Jika ekonomi membutuhkan peningkatan pasokan energi, akan sulit untuk mulai menggantikan pembangkit listrik batu bara,” kata Biggs, analis Wood Mackenzie.

Itulah mengapa, meskipun terdapat kebutuhan untuk mengurangi bahan bakar fosil untuk mengurangi pemanasan global, peneliti energi menentang klaim bahwa bahan bakar fosil akan segera meredup. https://repositoryku.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*