China Makin Pelit Ngutangin RI, Singapura Gak Ada Lawan

Jakarta, CNBC Indonesia – Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia naik 2% year on year/yoy dari US$392,29 miliar pada Oktober 2023 menjadi US$400,87 miliar pada November 2023 atau sekitar Rp6.233,53 triliun (kurs US$1= Rp15.550).

Kreditor utang dengan porsi terbesar yakni Singapura dan posisi kedua ditempati oleh Amerika Serikat (AS).

Posisi ULN pemerintah pada November 2023 tercatat sebesar US$192,55 miliar (Rp2.994 triliun), naik dibandingkan dengan posisi Oktober sebesar US$185,12 miliar, atau tumbuh sebesar 4%.

Perkembangan ULN pemerintah dipengaruhi oleh peningkatan penempatan investasi portofolio di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan internasional, dalam bentuk Sukuk Global, seiring sentimen positif kepercayaan pelaku pasar sejalan dengan mulai meredanya ketidakpastian pasar keuangan global.

Sementara itu, posisi ULN swasta pada November 2023 sebesar US$196,24 miliar (Rp3.051 triliun) atau mengalami kontraksi sebesar 3,2% yoy. Kontraksi pertumbuhan ULN tersebut bersumber dari lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations).

Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) naik menjadi 29,3% pada November 2023 dari 28,9%, serta didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 87,1% dari total ULN.

Posisi ULN Indonesia mayoritas peminjamnya yakni pemerintah dan bank sentral sebesar US$204,63 miliar atau sebesar 51,04%. Sedangkan sisanya yakni 49,96% atau US$196,24 miliar merupakan peminjam swasta yang terdiri dari lembaga keuangan dan bukan lembaga keuangan.

Jika melihat porsi kreditor ULN Indonesia hingga November 2023, didominasi oleh Singapura yakni sebesar 14,01% dengan jumlah US$56,16 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode Oktober 2023 yakni sebesar US$56,01 miliar dan terus bertumbuh sejak Agustus 2023.

Hal ini berbeda dengan kreditor AS yang justru terus mengalami penurunan menjadi US$28,99 miliar pada periode November 2023 dari US$29,36 miliar pada Oktober 2023.

Begitu pula dengan Jepang menambah porsi utangnya menjadi US$22,74 miliar pada November 2023 atau lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka US$22,67 miliar.

Utang dari China juga kembali turun menjadi US$20,89 miliar pada November 2023 atau turun selama dua bulan beruntun sejak September 2023 yang berada di angka US$20,96 miliar.

Sebagai informasi, posisi China mengurangi kreditnya bukanlah sesuatu yang mencengangkan mengingat saat ini kondisi China cukup mengkhawatirkan di tengah lesunya aktivitas manufaktur dan perekonomian Sang Naga Asia.

Dalam Laporan Utang Internasional 2023 yang dirilis oleh Bank Dunia menunjukkan ULN China pada 2022 relatif mirip dengan tahun 2020 dan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan 2021. Pada 2022, ULN jangka pendek dan jangka panjang masing-masing berada di angka US$1.265,19 miliar dan US$1.075,36 miliar.

Lebih lanjut, situasi China yang terlilit utang ini tak lepas dari volume pinjaman dari bank pembangunan publik China (Exim) dan China Development Bank melampaui volume pinjaman dari Bank Dunia pada periode 2008 hingga 2021, di berbagai bidang termasuk minyak. ekstraksi dan jaringan pipa, transportasi, energi, dan telekomunikasi.

China

Bank Dunia mempertahankan keunggulannya hanya dalam bidang kesehatan, pendidikan, pemerintahan, dan pertanian, selain dukungan anggaran langsung.

Secara total pada periode tersebut, komitmen pinjaman yang dibuat oleh dua bank pembangunan publik China mencapai US$498 miliar, atau 83% dari total komitmen Bank Dunia (US$601 miliar).

Tidak sampai di situ, kabar buruk lainnya terjadi di China khususnya perihal Foreign Direct Investment (FDI) atau arus investasi langsung  mengalami defisit paling dalam secara kuartalan pada periode Juli-September 2023. China bahkan mencatat defisit pada FDI untuk pertama kalinya sejak 1998 atau lebih dari 25 tahun lebih.

Menurut data State Administration of Foreign Exchange (SAFE), FDI China pada periode Juli – September 2023 mencatatkan arus keluar sebesar US$65,8 miliar. Defisit tersebut memperpanjang tren negatif sejak kuartal III-2022 atau setahun terakhir.

Arus keluar investasi asing yang masih deras di Tiongkok terjadi lantaran ada aksi “de-risking” atau pengurangan risiko oleh negara-negara Barat yang menganggap China sebagai risiko akibat teknologi semikonduktor. Hal tersebut juga menjadi penyebab eskalasi perang dagang antara negeri Paman Sam dengan negeri Tirai Bambu yang masih berlanjut hingga kini.

Melansir dari survei the Japanese Chamber of Commerce and Industry di China pada September lalu menyatakan hampir separuh responden tidak akan berinvestasi di China sama sekali pada 2023, sementara pada 2023 akan berinvestasi lebih sedikit.

Investasi asing ke China yang lesu tentunya akan berdampak domino pada ekonomi, pasalnya permintaan akan mata uang berkurang yang menyebabkan gangguan bagi pasar ekspor serta berimbas pada penyusutan neraca dagang.

Melansir data Biro Statistik Nasional China, neraca dagang per Oktober 2023 sebesar US$56,53 miliar. Nilai tersebut turun lebih dalam dari perkiraan pasar sebesar US$82 miliar dan dibandingkan bulan sebelumnya sebesar US$82,35 miliar, bahkan menjadi yang terendah sejak Februari tahun ini. https://lepassaja.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*